Annarasumanara
Selasa, 01 Mei 2012 | 10:55 PM | 0 note(s)


"Do you believe in magic?"

I totally love this manhwa. 


Aku bukan tipe orang yang suka baca manhwa. However, kalo disuruh milih, aku jelas lebih doyan baca manga ketimbang manhwa. Tapi, manhwa yang satu ini... berbeda. It feels like I've found "Dan Hujan pun Berhenti..."'s comic version. Cerita dan penokohannya emang beda jauh, tapi angsty feeling nya... sama.


Nama tokohnya Yoon Ah-Ee (Ai). Dia digambarkan sebagai seorang siswi yang plain dan cerdas. Tapi, yang paling mencolok dari dia itu leggingnya yang bolong-bolong. Yup, dia miskin. Sekali lagi, another author make plot klise; sang bapak ngutang dan sang ibu kabur dari rumah, akhirnya sang kakak terpaksa bersekolah sambil kerja sambilan demi menopang hidupnya dan adeknya. Cheesy, emang. Dan udah sering banget dipake. Tapi entah kenapa, sang author berhasil bikin manhwa ini terbebas dari image "cheesy".




 Ai ini diem-diem ngebet jadi pesulap. Dari kecil, dia selalu tertarik mempelajari trik-trik sulap dan berobsesi menjadi seorang pesulap. Sayangnya, real life comes first. Otomatis dia ninggalin mimpi-mimpinya, dan... kembali ke dunia nyata. Being a magician wouldn't get you a lot of money, would it?




Hingga akhirnya Ai iseng mampir ke taman ria yang biasa dia kunjungin bareng orang tuanya waktu masih kecil dulu. Sempet beredar kabar burung kalo di situ ada seorang pesulap yang biasa memusnahkan orang-orang demi kebaikan. And guess what? Ai KETEMU sama pesulap itu. Sang pesulap mendadak muncul tepat di samping Ai, dan melontarkan pertanyaan yang akhirnya menjadi trademark manhwa ini:


"Do you believe in magic?"


Pesulap itu disebut sebagai "R".






Time flows, dan akhirnya Ai melalui banyak hal bersama si R ini. Mulai dari being molested by her own boss at the restaurant, sampe dikejar-kejar sama debt collector... Ai udah pernah ngalamin semuanya. Bahkan dibayar sama temennya sendiri supaya mau ngalah dalam ujian, Ai pun mau ngelakuin hal itu demi ngedapetin sepeser uang. Dan R? R selalu muncul, mencoba membantu Ai dengan caranya sendiri, even if that means he should do it with his fail magic tricks. "Fail" di sini maksudnya.... bukan berarti R itu seorang pesulap kacangan loh, ya.


What's so good about this manhwa is, I love the characters' dark side. Just like Leo and Spiza in "Dan Hujan pun Berhenti...", Annarasumanara juga punya sisi yang sama. Baik Ai maupun R yang misterius, keduanya memiliki masalahnya sendiri dan bagian dari diri mereka yang kelam. Ai si introvert cerdas yang miskin dan bener-bener butuh duit, R si pesulap handal yang misterius dan disebut-sebut memiliki latar belakang yang buruk... melalui manhwa ini, kita bisa bener-bener ngikutin perjalanan hidup mereka yang diceritakan secara singkat (cuma ada 27 chapters), tapi tetep bisa ngerasain apa yang mereka ngerasain.


Aku juga suka cara sang author menyindir secara halus sifat-sifat karakternya. Ada saingan Ai, yang rela ngebayar Ai supaya mau ngalah di ujian, yang dikasih nama "Nomor Satu" dalam bahasa Korea. Dia digambarkan memiliki kepala yang lonjong dan panjang, seolah nggak punya leher, yang melambangkan tentang bagaimana pentingnya pride bagi dia. Ada juga temen sekelas Ai, si tukang gosip yang licik dan dikasih nama "Egois" dalam bahasa Korea. Isn't it smart?


Dan yang paling penting adalah, waktu kita baru baca manhwa ini, kita mungkin bakal ngira kalo manhwa ini berpusat di kehidupan Ai. Tapi ternyata begitu serial ini mendekati akhir, kita baru nyadar... kalo ternyata, semua ini tentang R. Twistnya emang nggak terlalu mencolok. Authornya memasukkan twist secara halus dan rapi... hingga akhirnya kita mikir:


"Ternyata gitu toh?!"


Awal-awal baca, apalagi bagi mereka yang nggak biasa baca manga/manhwa psikologi, mungkin bakal ngerasa kalo manhwa ini agak creepy dan boring. Tapi percaya deh, begitu kamu terus bertahan ngebaca beberapa halaman awalnya... kamu ga akan bisa lepas sampe lembar terakhirnya. Baik menonton langsung pengalaman hidup Ai yang pahit dan menemaninya berjuang dalam bertahan hidup, maupun menebak-nebak masa lalu R yang clueless, semuanya bakal jadi alesan bagi kamu untuk tetap bertahan membaca manhwa ini hingga akhir.


Overall, hal yang paling aku suka dari Annarasumanara adalah... chemistry antara Ai dan R. I just love how two strangers could have such a tight, deep and unbreakable bond. Ini bukan sekedar cinta. Dan juga bukan hanya tentang cinta. Ini tentang menyadari betapa berartinya mereka satu sama lain. Betapa miripnya mereka. Betapa mereka harus berjuang dalam melawan permainan dunia ini. Betapa mereka harus saling mendukung satu sama lain dari kehancuran yang membayangi mereka.

Just like what R said to Ai in his teary eyes; 


"I won't lose."




Octopuses, this is an amazing yet breathtaking manhwa. It's incredible and yes, it inspires me A LOT. I totally recommend you to read this.




Do you believe in magic? Annarasumanara.


Love,
LadyLo.



To Love, or To Leave (part 1)
Senin, 16 April 2012 | 4:24 PM | 0 note(s)

“Aku menyukaimu.”
“Oke. Aku akan jadi pacarmu dalam pertemuan kedua kita.”

“Hah! Kamu jawab begitu?!” Jiyoung berseru heboh, tepat setelah mendengar cerita lengkapku. “Ya ampun, Sulli! Gimana kalau kalian sampai bertemu lagi untuk yang kedua kalinya? Masa kamu serius mau pacaran sama stranger?”
Aku melemparkan majalah yang sedari tadi kubaca ke atas pasir, lalu menghela napas. “Santai, Ji. Kita berada jauh dari Seoul, dan dalam waktu kurang dari dua jam kita akan pulang ke sana. Nggak mungkin aku bakal ketemu dia lagi.”
Who knows, Ssul? Kita nggak pernah tahu dari mana asalnya.” Jiyoung masih ngotot, kali ini sambil mendekatkan wajahnya padaku. Aku mendorongnya perlahan.
“Dunia ini nggak sesempit itu, Kang Jiyoung. Kecuali kami berjodoh, kami nggak akan pernah bertemu lagi. Ngerti?”
Jiyoung terdiam. Sepertinya anak ini belum mengerti maksudku. Jadi, aku kembali membuka mulutku dan berkata, “Hidup ini bukan shoujo manga yang sering dibaca that Freak-Stal.”
Tepat ketika Jiyoung hendak mengeluarkan argumennya, Suzy duduk di antara kami berdua sambil membawa beberapa minuman kaleng yang masih dingin. “Ada apaan sih?”
“Itu tuh, si Sulli ditembak cowok pirang itu. Dan bodohnya dia malah bilang kalau dia bakal jadi pacarnya dalam pertemuan kedua mereka,” Jiyoung menjelaskan secara singkat pada Suzy dengan menggebu-gebu. Memang anak ini lah yang paling hiperaktif dalam gengku.
“Hah? Ditembak si Zico-Zico itu? Terus Kai di Seoul mau kamu kemanain, Ssul?” Suzy, yang biasanya paling irit komentar, mengeluarkan respons terbaiknya. Jiyoung segera menyikutnya perlahan.
That’s it. Kali ini aku sedang berada di tengah pelarianku yang terjadi akibat aku menangkap basah Kai, pacarku saat ini, sedang berduaan dengan Krystal, yang tak lain adalah sahabat seumur hidupku… or so I thought.
 Dalam keadaan amarah besar memuncak di kepalaku, tanpa pikir panjang aku segera memboyong Jiyoung dan Suzy ke pantai ini, dan memaksa Taemin, sahabatku sejak kecil, untuk menyupiri kami. Awalnya Taemin menolak mentah-mentah permintaanku, tapi berhubung orang tua kami sangat dekat—dan orang tuaku sering bilang kepadanya kalau mereka mempercayakanku padanya—dia tidak bisa berbuat apapun ketika aku mengancam akan kabur selamanya bersama Jiyoung dan Suzy. Tentu saja dia tidak menganggap serius ancamanku. Dia hanya ingin aku mendinginkan kepalaku.
And on the top of that, aku berkenalan dengan cowok berambut pirang di pantai ini. Namanya Zico. Anaknya asyik dan lucu. Selama seharian ini, dia dan beberapa temannya menemaniku, Jiyoung, dan Suzy bermain di pantai. Bahkan walaupun kami baru saling mengenal selama beberapa jam belakangan, aku sudah dapat menyimpulkan bahwa dia adalah tipikal anak gaul yang sering digandrungi perempuan. Sebelas-dua belas sama pacarku, Kai. Bedanya, Zico sangat aktif dan seru. Sementara Kai… tahu sendirilah. Tipe-tipe cowok yang cool dan punya killer charm.
Aku menyukai Zico. Tapi hanya sebagai teman laki-laki yang menyenangkan. Tidak lebih dari itu. Dan tentu saja aku cukup kaget saat dia mendadak menyatakan perasaannya terhadapku. Kupikir dia bukan tipe orang yang serius dan melankolis seperti itu. Maksudku, jatuh cinta pada pandangan pertama? Please deh, mana ada hal yang seperti itu! Tentu saja hal ini membuatku hilang respect sama dia. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada seseorang yang baru dia kenal dalam durasi kurang dari 24 jam?
Namun, mungkin hanya aku yang tidak mengerti apa itu cinta. Buktinya aku juga tidak memiliki perasaan semacam itu terhadap Kai. Aku berpacaran dengannya murni hanya karena dia menembakku. Kupikir, dia memang orang yang baik. Aku tidak membencinya. Dia juga populer, punya status sosial yang tinggi, tinggal di mansion raksasa… dia memiliki hal-hal yang membuatnya pantas bersanding denganku. Makanya aku mau jadi pacarnya. Sebenarnya, aku tidak patah hati atau bagaimana kok saat mendapatinya menduakanku dengan Krystal. Aku hanya sakit hati dan gengsi; kok bisa sih dia berselingkuh dengan teman baikku sendiri? Apakah aku yang terlalu naïf, dia yang terlalu licik, atau Krystal yang luar biasa bego?
Oh iya, ngomong-ngomong soal Krystal, mulai hari ini dia bukan anggota gengku lagi. Pokoknya bukan. Tidak peduli sepantas apapun dia bergaul denganku, aku tidak pernah menerima PENGKHIANAT.

**


“HAPPY BIRTHDAY SULLI!!!!”
Aku berdiri mematung di ujung pintu.
APA-APAAN NIH?!

Entah apakah aku harus memaki mereka satu-satu, atau justru menangis penuh haru, tapi inilah kenyataan yang sedang kuhadapi; seluruh anggota gengku sedang berdiri di hadapanku, beberapa dari mereka mengacungkan banner bertuliskan “Happy Birthday Choi Jinri”. Mereka mulai bertepuk tangan riuh ketika Krystal dan Lizzy mendorong sebuah kereta makanan yang di atasnya diletakkan sebuah cake tiga tingkat.
Aku mengerjapkan kedua mataku, berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Oke, sebagai pembuka, ini jam dua belas malam. Baru beberapa jam yang lalu aku tiba di Seoul. Tiba-tiba saja Jiyoung dan Suzy menyerbu masuk ke dalam kamarku—entah sejak kapan mereka berada di rumahku—dan menarikku bangun. Di luar rumah, Taemin sudah menunggu kami dengan mobilnya. Dalam hitungan menit, dia membawa kami ke rumah Kai dengan kecepatan tinggi. Aku mengamuk luar biasa dan mencaci maki mereka bertiga saat menyadari kemana mereka membawaku pergi. Dan ketika aku meronta liar untuk kabur dari rumah ini, pintu masuk utama terbuka lebar.
Dan inilah yang terjadi. Kejutan ulang tahun untukku. Tepat jam dua belas malam.
“Apa-apaan nih?” Aku bergumam pelan, merasa dipecundangi oleh mereka semua. Detik ini mereka berdiri di hadapanku dengan pakaian dan dandanan terbaik masing-masing. Sementara aku, the birthday girl, terlihat paling lusuh dalam balutan pakaian tidurku. Dan satu hal lagi, aku benci menjadi orang yang paling bodoh dan tidak tahu apa-apa.
“Tiup lilinnya, Sulli,” Tiffany, yang ternyata berdiri di sebelahku, menepuk bahuku. Aku terkesima saat menyadari kehadirannya di sini. Tiffany selalu menjadi unnie favoritku. Dia jelas bukan anggota gengku yang diisi dengan anak-anak remaja berumur belasan tahun, tapi aku sangat bersyukur karena dia mau menyempatkan diri ke sini—terima kasih pada siapapun yang mengundangnya.
Aku berusaha untuk mengesampingkan fakta bahwa Tiffany tidak datang sendiri. Dia membawa serta Heechul, sahabat baikku juga, dan Jessica—kakak kandungnya Krystal. Sebenarnya mereka terlibat dalam perang dingin menahun, tapi selalu berpura-pura akur di hadapan publik—serta Siwon dan Changmin, keduanya adalah teman Tiffany yang juga akrab denganku.
Lilin yang berdiri kokoh di atas cake tiga tingkatku mulai menarik perhatian semua orang. Api yang tersulut di atasnya bergoyang-goyang liar, seolah memohon padaku untuk segera melenyapkan mereka semua. Aku mengabulkan permintaan mereka. Semua orang semakin heboh setelah aku meniup seluruh lilin itu.
“Nah, sekarang, dimaafin ya itu Kai sama Krystal. Mereka loh yang sudah menyusun rencana ini matang-matang,” Tiffany berbisik padaku. Mulutku menganga. Hah? Mereka? Bukannya mereka yang mengkhianatiku, ya?
“Setuju sama Fany noona. Ssul, please maafin Kai. Dia galau banget gara-gara kamu ngamuk,” Chanyeol menyikutku. Aku mengangkat kedua alisku. Sepertinya aku mulai memahami permainan mereka.
Lizzy tiba-tiba beringsut manja ke arahku. “Kamu nggak mau dengerin aku sih, Ssul! Sebenarnya, waktu kamu masuk ke kelas, ada aku di sana. Tapi kamu nggak lihat aku, soalnya aku lagi ngambil tas di ujung ruangan. Kamu langsung pergi begitu aja setelah ngelihat Kai lagi ngobrol berdua sama Krys. Padahal kami lagi nyusun rencana untuk pesta kejutan ini.”
“Sudahlah Ssul, maafin aja si Kai sama Krystal!” Minho berseru, mungkin cari muka di depan Krystal.
“Sebentar, sebentar,” aku menyela. “Jadi, kalian nggak selingkuh?”
Tawa Krystal meledak di ruangan raksasa ini. “Nggak mungkin lah, Ssul! Kamu tahu sendiri aku nggak dekat-dekat amat sama cowokmu. Plus, waktu itu aku ngobrol sama dia karena kebetulan kami berdua sama-sama pengen bikin surprise buat kamu. Dan aku suka sama older guys, remember?”
“Daaaaan, kalian bertiga tahu soal ini?” Aku melotot ke arah Jiyoung, Suzy, dan Taemin.
Jiyoung cengengesan. Taemin mengangkat bahu. Mereka berdua jelas terlihat hopeless, jadi aku melemparkan pandangan memohon ke arah Suzy.
“Awalnya nggak. Tapi, Lizzy langsung ngirim ke SMS ke Jiyoung dalam perjalanan kita keluar dari Seoul. Ji kemudian nge-forward SMS itu ke aku dan Taemin.”
Aku bertepuk tangan sarkastis, menyadari betapa bodoh dan clueless nya aku di hadapan orang-orang terdekatku ini. “Well, well, you guys surprise me for real! Congrats! Kejutan kalian SANGAT berhasil, kalau kalian mau tahu.”
“Jangan marah dong, Sulliiiii!” Key berceletuk jenaka.
Krystal menghampiriku. “Kamu nggak marah lagi sama aku kan, Ssul?”
Aku menahan senyumku. Aku nggak pernah percaya sama cinta sejati, tapi—mungkin—sahabat sejati cukup makes sense. Krystal terkejut saat aku memeluknya. “You’re the best ever, Jung Soo Jung.”
“Si Krystal sudah dimaafkan. Nasibnya Kai gimana, Ssul?” Heechul mendadak muncul di tengah-tengah kami berdua. Dalam sekejap, ruangan ini dipenuhi oleh siulan-siulan nggak penting dan kata-kata provokasi semacam “peluk” dan “cium”. Maaf deh, hubungan percintaanku bukan untuk konsumsi publik.
Kai berdiri di sana, di tepi ruangan, mengamatiku dengan senyum penuh arti miliknya. Dia kemudian menggaruk-garuk kepalanya saat perhatian semua orang beralih kepadanya. Wajahnya dipenuhi semburat merah, terlihat malu ketika aku menatapnya. Lucu sekali.
“Kamu nggak mau ngucapin apapun ke aku?” Aku berkata sambil menghampirinya. Berusaha untuk mengabaikan godaan-godaan yang disampaikan anggota gengku ternyata cukup berat.
Kedua matanya membulat. Lalu, ada segurat senyum yang kembali hadir di sana. “Happy birthday, Sulli. Just stay alive, and thanks for being born…”
Rasanya jijik untuk mengakui hal ini keras-keras, tapi tak dapat dipungkiri lagi; jantungku berdebar kencang saat dia mengucapkan semua itu dengan pandangannya yang terlihat begitu tulus. Penuh kasih. Dia memelukku erat-erat. Audiens semakin heboh saat aku membalas pelukannya.
“Aku sayang kamu…” Dan itu kuucapkan dengan tulus.

**

Hidup itu indah.
Saat ini, aku sedang mengalami kesempurnaan absolut dalam hidupku. Rasa senang itu adiktif, memang. Dan kupikir, dalam tahap ini, aku memiliki segala hal yang diinginkan setiap remaja seumuranku. Kebahagiaan luar biasa. Seandainya merasa bahagia adalah dosa besar, aku pastilah sudah berevolusi menjadi seorang pendosa hebat. Dan hal ini justru membuatku bersyukur telah dilahirkan ke dunia ini.
Dan Kai.
Dia bukan pacar pertamaku. Tapi dialah satu-satunya yang bisa berbuat sejauh ini kepadaku. Dia yang pertama kali berhasil mempermainkan hatiku. Membuatku senang setengah mati saat berduaan dengannya. Membuatku gelisah waktu terpisah darinya. Membuatku bertanya-tanya apa yang sedang dia lakukan dalam setiap detiknya. Membuatku berdoa untuk kebahagiaannya.
Aku menghela napas panjang. Gila, gila, gila. Sudah cakep, tajir, eksis, baik pula! Oh God, mimpi apa aku semalam sampai bisa dapat pacar sesempurna ini? Tapi… nggak heran sih. Seorang Sulli memang pantasnya bersanding dengan laki-laki semacam ini. Iya kan?
Cinta… aku mungkin belum pernah memberikannya. Tapi aku sudah memilikinya.
Sayangnya, aku terpaksa setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa kita harus melakukan hal-hal sekedarnya saja. Merasa bahagia pun jangan terlalu berlebihan. Karena mungkin saja, Tuhan akan marah dan membalikkan keadaan yang ada. Seperti yang kali ini terjadi padaku.
Betapa inginnya aku kabur dan lenyap dari dunia ini, saat mendapati laki-laki dengan rambut pirang berjambul itu berdiri di hadapanku. Untuk yang KEDUA kalinya.
“Sulli?” Dia menyuarakan namaku dengan mata berbinar.
Sial. Kenapa harus sekarang, ketika aku mulai mencintai seseorang?

***

Okay, so.... here we go with my first fanfic setelah sekian lama hiatus. Kenapa teenage drama? Karena inilah awal yang cocok untuk memulai kembali aktivitas menulis fanficku... yang notabene selalu angsty. So, please bear with my horrible writing. Bisa dibilang ini fanfic iseng-iseng, yang ditulis secara iseng-iseng, dengan niat iseng-iseng. Ngelakuin hal setengah-setengah emang ga bagus. Tapi, meskipun ini fanfic iseng-iseng yang jadi dalam waktu CUMA satu jam (dan langsung dipost), I had so much fun when I was writing this one. 

Nggak ada tekanan. Nggak ada keharusan. Nggak ada paksaan. Fanfic ini adalah karya yang aku buat dengan hati luar biasa tulus, ikhlas, dan ringan... setelah sekian lama.
Mungkin ini ya yang dinamakan menulis untuk menghibur diri sendiri? Hahahaha.

Label: ,

dan hujan pun berhenti...
Jumat, 13 April 2012 | 7:04 PM | 0 note(s)
I KNOW THAT I'M LATE.

But, guess what? Selama bed rest di rumah beberapa hari belakangan, aku bener-bener terhibur dengan adanya novel "Dan Hujan pun Berhenti..." ini. I've found lots of good reads before, whether it's a novel or a comic. Tapi bukan Forgiven, Unforgettable, atau manga Faster Than A Kiss e-te-ce e-te-ce yang aku tulis resensinya di sini.

But this novel. 

"Dan Hujan pun Berhenti..." 

Novel ini udah lama banget sih. Pertama kali terbit tahun 2007. Ini juga aku minjem dari temenku. Tapi tetep aja, bahkan walaupun udah basi dan aku satu-satunya orang di dunia ini yang baru KALI INI ngebaca novel ini, aku tetep ga bisa menahan diri untuk nulis tentang ini novel di sini.

Teenlit biasanya identik sama cerita sekumpulan ABG kota metropolitan memperebutkan cinta kapten tim basket sekolah lah, vokalis band lah, dan lain sebagainya - if you know what I mean. Tapi yang ini beda. Dark. Angst. You name it, this book has it. However, ceritanya tetep remaja sekali, dan menarik untuk dibaca bahkan sampai lembar terakhirnya.

Tokoh utamanya cowok. Namanya Leo. Weird, huh? Jarang kan novel, teenlit Indonesia pula, tokoh utamanya cowok. But this is the truth, Dear. And I've fallen in love with this Leo guy. Leo, Leo, Leo. Satu kesamaan yang kami punya: sama-sama nggak percaya sama orang lain. Selain diri sendiri. But that's not the point here.

Leo, bisa dibilang tipikal anak tajir yang cakep, bahkan blasteran, jago matematika, pinter bahasa Inggris juga. Tapi bukan berarti dia semacam karakter cowok perfect di teenlit abal-abal yang gampang kita temuin dimana pun. LEO IS DIFFERENT. He's loveable. Dia adalah karakter remaja jaman sekarang; sosok-sosok muda yang rapuh dengan emosi labil, yet tries so hard to look happy and all. Leo bukan tipe cowok yang hiperaktif dan ramah luar biasa, tapi dia juga bukan contoh cowok sok cool yang unapproachable. Leo is the boss of his world. Yes, dia smart. Dia lucu. Dia licik. Dia menarik. Dia psycho. Dia pemberani. He's a kind of prince charming that every girl would dream of. 

Selain itu, Leo, yang selalu berpura-pura di depan semua orang, justru merupakan sosok yang paling real di dunia ini. Bukannya semua orang begitu? Penuh kepalsuan. Penuh kebohongan. Penuh basa-basi. Leo selalu ketawa di depan orang. Padahal, diem-diem dia berulang kali ngebunuh semua orang itu dalam otaknya. Dan dia selalu berhasil untuk menjaga diri tetap tenang, agar semuanya terencana. Such a great guy. 

Jadi, si Leo ini adalah anak kedua dari keluarga Miyazao, yang notabene adalah keluarga pebisnis tersohor dan pastinya terkenal. Dan, kalo kata orang, keluarga broken-home. Papa yang violent. Mama yang selingkuh sana-sini. Bahkan walaupun Leo punya dua saudara yang sangat baik dan selalu nge-support dia, hatinya Leo tetep ikut-ikutan broken. Tapi penyebab dan inti cerita novel ini bukan cuma itu.

Semuanya gara-gara Iris.

Iris, satu-satunya temen terbaik yang pernah Leo punya seumur hidup. Tapi justru disaat Leo mulai membuka hatinya, Iris malah harus pergi selamanya karena kecelakaan. Leo sakit hati. Leo depresi. Dan sampai akhir cerita pun, Iris lah yang menjadi benang merah dari segala kejadian yang ada dalam kisah hidup Leo. 

Kedengerannya simpel dan plotnya bukan something new, kan? Tapi percaya deh, once you read it, you'll fall in love eventually. Because Leo, and his comrades, were born to be loved.

Membaca kisah hidup Leo berarti harus siap untuk ikut hanyut dalam ceritanya. Bersama Leo, kita ikut menikmati hidup melalui caranya. Kita ikut marah. Tertawa. Menangis. Salut untuk sang penulis, Farida Susanty, yang berhasil membuat para pembacanya bisa mendalami emosi Leo. Dalam satu menit, kita bisa ketawa sampe guling-guling bareng Leo. Menit berikutnya nggak akan ada yang ngerti kenapa kita mewek baca novel bercover hitam ini.

Dan di sisi Leo ada Spiza, seorang perempuan yang berulang kali berusaha bunuh diri. Yup, bunuh diri. Berhubung Leo sendiri incredibly amazing and utterly psycho, tentunya kita nggak bisa menyandangkan dia sama cewek biasa-biasa aja. Ibarat milih calon istri buat putra mahkota, kita harus milih seorang tuan putri yang memiliki kualitas terbaik. Dan Spiza lah orangnya. Nggak kalah psycho, pemberani, maupun menarik. I, myself, love this couple a lot. Kalo dulu ada manusia yang diciptakan dari tulang rusuk Leo, aku yakin pasti Spiza lah orangnya. Because, hell, they make a freaking PERFECT couple! (plus mereka bener-bener lucu, fun, so sweet...)

Inti dari hubungan Leo dan Spiza adalah, keberanian. Berani untuk memulai, berani untuk memahami, berani untuk saling mendukung..... Leo dan Spiza mungkin nggak punya komitmen. Tapi mereka punya ikatan yang tanpa sadar mereka miliki. Dan siapa yang sangka kalo ternyata Spiza ada hubungannya sama Iris?

Novel ini emang angsty dan dark, tapi bukan berarti 100% isinya bikin depresi. Justru banyak jokesnya yang muncul karena tingkah liciknya si Leo, loh. Bukan jokes yang ditimbulkan kebodohannya, tapi. Pokoknya lucu dan menghibur, lah..... bener-bener remaja banget.

Ah, berhubung udah lama nggak bikin resensi, aku jadi bingung harus nulis apa. Silakan dibaca sendiri lah ya, hahahahaha (such a lame excuse). Dan berikut ini beberapa dari sekian banyak my favourite quotes............

"Kamu mau bunuh diri?"
"Ya, asal nggak hujan."

SPIZAETUS CAERINA?
Nama apa itu? Merk Baygon?

"Ya, gue suka Matematika. Tapi, gue nggak suka ngomongin Matematika." Leo terdiam sejenak, lalu bersiul sambil menatapi Sylvia atas bawah, "Kenapa sih lo nggak ngomongin aja soal kapan lo bisa gue pake?"

"Sofa ini hangat sekali. Terima kasih, gue merasa baikan," gumam Leo.
"Oh ya?"
"Apa lo membuatnya dari susu cokelat?"
"Bukan, dari jaket."

.....dan masih banyak yang lainnya. :)

Love,
LadyLo. 

Label: ,

bagi yang demen kpop
Senin, 19 Maret 2012 | 12:38 AM | 0 note(s)
Warung Kpop



Bukan forum.
Bukan news portal.
Bukan tempat baca fanfic.

Tempat gosip? Dirty facts about kaypop? Tempat makan nasi kucing?

Penasaran?


Klik link di atas! :) 

(Dijamin nggak nyesel)



Love,
LadyLo.

Label:

doubts
Senin, 12 Maret 2012 | 6:20 PM | 0 note(s)
Sometimes, there are times when you have some doubts towards yourself. A kind of thought that makes you feel like, you're not doing the right thing. It's normal to feel such a thing. But no one can deny that it's somewhat painful to do over yourself. However, the worst feeling is the one when you have doubts over your bestfriends.

Or maybe, people that you thought they WERE your bestfriends.

Hubungan-hubungan yang, katanya, long-lasting semacam persahabatan seharusnya nggak perlu semacam deklarasi tertentu. True bestfriends don't say "we are bestfriends now" to each other. It's just we feel like doing it. Tanpa sadar, kita selalu menghabiskan waktu dengan orang-orang itu. Cerita macem-macem ke mereka. Merasa definisi sesungguhnya dari "quality time" adalah ketika kita melewatkan waktu bareng mereka. Time flows, dan waktu kita sadar, dengan sendirinya kita udah menganggap mereka sebagai sahabat kita. Nggak perlu peresmian. Nggak perlu segala ikrar.

Tapi, yang paling menyakitkan adalah saat dimana TERNYATA mereka nggak merasakan hal yang sama ke kita. Oke, kita nganggep mereka sahabat. Gimana kalo ternyata ini cuma one-sided friendship? Disaat kita mengagung-agungkan mereka sebagai so-called-BFFs, mereka justru sama sekali NGGAK masukkin kita ke "daftar sahabat" nya. Yang lebih parah lagi, gimana kalo mereka menganggap kita sebagai sahabatnya, tapi mereka sama sekali nggak bersikap seperti how a bestfriend should act?

Mereka ngelakuin hal dari A sampe Z dengan mengatasnamakan kebaikan mereka. Prinsip mereka, "aku ngelakuin semua ini demi kebaikanmu, biar kamu seneng". Padahal, sebenernya semua itu cuma untuk kepuasan mereka semata. Dan bodohnya kita, as a loyal bestfriend, mau-maunya ngikutin omongan mereka?

This is bad. I have doubts over my so-called bestfriends. They DO backstab me. They talk behind me, and I've seen the proofs before. It hurts, hurts so bad until I can't stop thinking about it for the whole days. I spent the nights for thinking about my faults, but still - I couldn't find the EXACT thing which made them doing such a cruel thing to me. Why they did this to me? How long it's been since the very first time they started hating me? I don't even know whether "hate" is the perfect word or not, but one thing that I know; if they REALLY love me, they wouldn't do anything like this, right?

This isn't the first time. But I thought all of us already started a brand new page of our friendship. No matter what they do, I can't do anything but only forgiving them. Why they couldn't do the same thing to me? I'm sorry for hurting you. For making you uncomfortable with my behaviour. But if you have any unspoken words, why don't you just tell me directly instead of backstabbing me? 

Now it feels like Bon Iver's Skinny Love:

Who will love you? 
Who will fight?
Who will fall far behind?

Bohong kalo mereka bilang mereka nggak mau nyakitin perasaanku dengan berkata jujur. Kalo mereka bener-bener berniat baik, mereka pasti bakal ngomong langsung ke aku. Bukannya nunggu aku sadar sendiri. Bukannya ngomongin aku dari belakang.

Ini semua salahku yang udah ngelanggar prinsipku sendiri; untuk nggak sepenuhnya percaya sama orang lain. Untuk nggak pernah bersandar sama orang lain. The world is giving its judgement towards me. So I guess I have to come back to my oldself; the one who will never, ever believe in another person.

Maaf, maaf banget udah nyakitin kalian semua - meskipun sampe saat ini aku nggak tau apa yang bikin kalian bertindak sejauh ini. Bahkan walaupun kalian mau bilang "itu udah bulan Januari lalu kok, sekarang udah nggak lagi"..........

YOU GUYS STILL HURT ME.

I'm sorry.


Love,
LadyLo.

Label: , , , , , , ,

Ternyata
Minggu, 26 Februari 2012 | 1:02 AM | 0 note(s)
Ada gadis aneh di kelas sebelah.
Rambut sebahunya dibiarkan tergerai bebas dengan poni yang dijepit ke atas, membuat dahinya gampang terlihat. Wajahnya bulat, dan ada kacamata berlensa persegi panjang dengan frame warna hitam yang selalu menghiasinya. Kedua lengan seragamnya selalu digulung hingga siku. Rok abu-abu semata kakinya robek sampai ke betis, dan hanya dibiarkan begitu saja. Seolah-olah dia sama sekali tidak mempedulikan kerusakan yang ada pada roknya itu.
Dia selalu menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bercanda tawa bersama sahabatnya; seorang perempuan bertubuh tinggi menjulang dan kurus yang rambutnya selalu dikuncir kuda. Qiara juga sering mendapatinya sedang membaca sebuah novel yang biasanya cukup tebal. Belakangan ini Qiara baru menyadari bahwa novel yang dia bawa selalu berbeda setiap harinya.
Awalnya Qiara tidak terlalu memperhatikan gadis itu, hingga akhirnya dia menemukan gadis tersebut di balkon sekolah pada suatu senja. Setiap sore, gadis itu selalu menyempatkan diri untuk datang ke balkon dan menyanyikan lagu-lagu bernada sedih dalam bahasa asing yang tidak dikenal Qiara. Hanya saja, wajahnya tidak pernah terlihat benar-benar sedih. Tatapan matanya kosong, namun kedua alisnya dan sudut-sudut bibirnya selalu memancarkan emosi yang berbeda. Qiara tidak pernah mengerti bagaimana bisa gadis itu menyanyikan lagu-lagu sedih dengan wajah penuh amarah seperti itu.
Terkadang Qiara tergoda untuk menyapa gadis aneh itu. Tapi Qiara selalu berhasil menahan diri. Tidak seharusnya dia bergaul dengan orang-orang semacam itu, kan? Qiara harus tetap berada di dalam lingkarannya yang aman. Lingkaran yang bersinar, dan menjanjikan kehidupan sosial yang menyenangkan.

**
Hari ini Qiara memergoki gadis itu sedang menatapnya tajam. Saat itu mereka sedang berada di kantin dengan teman mereka masing-masing. Setelah dipikir ulang, ini bukan kali pertama Qiara mendapati gadis itu sedang memelototinya. Rasa penasaran sempat merayapi hati Qiara. Namun orang-orang seperti Qiara memang mudah mengundang rasa benci di sekolah, sehingga dia memutuskan untuk mengabaikannya tepat saat Aksa menggandeng tangannya.
Aksa adalah kekasih Qiara. Satu sekolah jelas sudah mengetahui hal itu. Aksa yang tampan, Qiara yang cantik; mereka berdua adalah jenis pasangan langka yang hanya sering terjadi di komik-komik—atau sinetron. Ketika Qiara lebih memilih untuk memperlihatkan kemesraan mereka berdua pada kalangan terbatas saja, Aksa adalah tipe laki-laki yang suka mengumbar aktivitas mereka dimana-mana. Menggandeng Qiara di koridor sekolah, merangkulnya di kantin, duduk sebangku dengannya di kelas—di setiap sudut selalu saja muncul aura percintaan mereka.
Tentu saja Qiara merasa asing pada awalnya. Meskipun teman-temannya sudah terbiasa dengan gaya berpacaran macam itu, Qiara termasuk perempuan alim yang selalu menjaga diri dalam lingkarannya. Aksa juga bukannya sejak dulu bertingkah aneh seperti itu. Aksa yang pertama kali Qiara kenal merupakan sosok yang hangat, sosok yang melindungi, yang segan untuk sembarangan menyentuh Qiara, seolah Qiara adalah gelas kaca yang ringkih dan mudah pecah. Lama-kelamaan Aksa berubah, seiring dengan meningkatnya intensitas pertemuan mereka.
Selama tiga bulan belakangan ini, Aksa selalu memandangnya dengan tatapan mata kosong. Tanpa siluet Qiara yang terpantul di kedua bola matanya yang bulat sempurna layaknya manik-manik yang indah. Ingatannya seperti menguap entah kemana, meninggalkan tubuhnya di hadapan Qiara.
Saat ini, kedua bola mata itu tengah menatap Qiara dengan nanar. Ada rasa sakit yang tak terhingga di sana.

**

“Aku capek.” Aksa mengucapkannya dengan cukup lantang ketika hanya ada dia dan Qiara di dalam mobilnya.
Capek. Lelah. Qiara lah satu-satunya orang yang mengerti maksud dari perkataan Aksa. Artinya dia ingin berhenti berjuang. Ingin meninggalkan Qiara. Ingin memutuskan hubungan ini.
Qiara bersandar pada jok mobil yang dia dudukki saat ini. Pada saat-saat normal, mungkin dia sudah memaki Aksa habis-habisan. Seharusnya dia melakukan itu. Setelah satu tahun bergulir dengan ujian di sana-sini dalam hubungan mereka, justru Aksa—yang menjanjikan keabadian dalam hubungan mereka—lah yang memutuskan untuk berhenti. Qiara menatap kedua telapak tangannya, menghitung kira-kira sudah berapa lama Aksa merasakan kejenuhan yang tak bertepi itu.
Menjadi orang yang perhitungan itu cukup sulit. Qiara baru menyadarinya ketika dia menutup kedua matanya, menimbang-nimbang siapa yang paling banyak memberikan keuntungan dan manfaat dalam hubungan ini, dan apa yang harus dia lakukan dalam menghadapi situasi ini. Apakah dia harus menangis meraung-raung? Apakah dia harus mengiba pada Aksa agar bersedia memikirkan ulang keputusannya? Apakah semua itu bisa membuat Aksa kembali kepadanya?
Sesak memenuhi dada Qiara. Rasanya seperti ada asap yang memenuhi pikirannya saat ini. Hatinya terasa sangat panas hingga ke ubun-ubun. Qiara sendiri tidak tahu apakah rasa panas tersebut diakibatkan oleh amarah, atau justru kesedihan yang kini menghinggapi hatinya. Otaknya seperti baru saja tersetrum listrik ribuan Watt. Tubuhnya gemetar hebat. Ujung-ujung bahunya mulai goyah. Pertahanannya mulai luntur. Sebenarnya, Qiara ingin menangis.
Tapi Qiara harus tetap berdiri tegak di atas keyakinannya. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan laki-laki ini. Dia tidak mengizinkan dirinya untuk memberikan suatu kepuasan pada laki-laki ini. Kepuasan karena telah sukses mencampakkannya. Kenyataan sudah cukup membuatnya terlihat menyedihkan, tak perlu lagi ditambah dengan deraian air mata yang sia-sia.
Qiara menarik napas dalam-dalam, berusaha agar suaranya terdengar sebulat mungkin. “Oh.”
Hanya itu jawabnya.
Lalu Qiara membuka pintu mobil Aksa dan melangkah keluar dengan mantap. Rambutnya yang panjang sepunggung dan diikat satu dengan sempurna itu bergoyang perlahan, seperti memberikan lambaian selamat tinggal yang permanen ke arah Aksa. Dia membuka pintu pagar rumahnya, kemudian berjalan masuk tanpa menyempatkan diri untuk menoleh ke belakang lagi. Sayup-sayup, deru mobil Aksa yang menjauh mulai merasuki telinganya.
Pertahanan Qiara yang begitu teguh mulai runtuh setelah masuk ke rumah. Di dalam kamar, dia menangis semalaman.
Keesokan harinya, dia melihat Aksa sedang merangkul gadis aneh dari kelas sebelah itu di ujung koridor.

***

Label:

mad soul child
Jumat, 13 Januari 2012 | 7:06 PM | 0 note(s)
Meet my favourite band: Mad Soul Child.

Grup yang berasal dari Korea ini terdiri dari tiga orang, yaitu Jinsil (vokal), DJ Chanwoo (produser), dan VJ Kwon (visual). Eits, jangan salah sangka ya... "visual" di sini bukannya semacam image boy yang biasa kita temuin di girlband maupun boyband Korea loh. Tugas VJ Kwon di grup ini cukup unik dan jarang ada di band-band lain. Kalo Jinsil dan DJ Chanwoo terlibat langsung dalam pembuatan lagu-lagu mereka, tugas VJ Kwon justru berhubungan dengan performance mereka. Yup, VJ Kwon lah yang membuat background yang akan ditampilkan dalam performance mereka :)

Mad Soul Child berada di bawah bendera CJ Entertainment. This group sure can be anything that they want. Sexy electro-pop, sampe lagu yang kinda nge-jazz, maupun ballad bisa mereka tampilkan. Jinsil yang punya suara unik dan touching abis, ditambah sama aransemen nya DJ Chanwoo plus background keren yang selalu punya story line nya tersendiri dari VJ Kwon berhasil menciptakan the best threesome ever in South Korea. Sayangnya mereka agak underrated nih :(


Sejarah terbentuknya Mad Soul Child agak mirip sama awal-awal terbentuknya Far East Movement. DJ Chanwoo sama VJ Kwon temenan waktu SMA, sementara mereka baru kenal sama Jinsil setelah DJ Chanwoo (nggak sengaja) ketemu Jinsil di sebuah universitas. Ternyata mereka punya minat dan selera yang sama soal musik, dan akhirnya mereka sepakat untuk membentuk grup yang sekarang kita kenal dengan nama Mad Soul Child ini.

Mad Soul Child terbentuk tahun 2001, tapi baru resmi merilis debut album mereka tahun 2009. Sebelumnya, Mad Soul Child lebih terkenal dengan lagu-lagu mereka yang sering dipake di berbagai CF branded things di Korea Selatan.

Beberapa dari sekian banyak lagu CF mereka (yang terkenal di Korea) :

SK 11st CF


KB Card CF (featuring Lee Hyori & Rain)


Etude Girl CF (yang paling terkenal)


Calvin Klein Jeans BTS (featuring f(x)'s Sulli, Krystal, & Victoria)


Dan, finally, MV dari title song mereka untuk album "LaLaLa"..... (yup, ini lagu yang dipake CF Etude Girl di atas) :
V.I.P Girl


Beberapa performance mereka :
LaLaLa
Dear


Anyway, baru-baru ini sang vokalis (Jinsil) being featured di salah satu lagu solonya Tablo yang berjudul Bad.

Tablo featuring Mad Soul Child's Jinsil - Bad (M/V)


Tablo featuring Mad Soul Child's Jinsil - Bad (Performance)


Lagu ini ditampilkan oleh Tablo di YG Family Concert bareng 2NE1's Park Bom yang ngecover seluruh part nya Jinsil. Beda dari versinya Jinsil yang terkesan "rapuh" dan "menyayat hati", versinya Park Bom lebih ke "emosional" dan "marah".

Tablo featuring 2NE1's Park Bom - Bad @ YG Family Concert (Performance) 


Oke deeeh, kayak itu dulu sekilas info tentang Mad Soul Child. Mohon maaf kalo ada data yang salah, aku juga fans barunya mereka hehehehe. 

In case kamu mau tau lebih banyak lagi soal mereka, silakan cek MySpace dan YouTube account nya mereka ;) 

Love,
LadyLo. 
 

 



 

Label: , , , , ,


OLD